hubungi kami di : marta.diputra@yahoo.co.id

marta.diputra@yahoo.co.id

Selasa, 11 Oktober 2011

SEJARAH PURA PULAKI

Pulaki adalah sebuah legenda Kembali ke atas

Pulaki sering dikaitkan dengan sebuah legenda yang terkenal di kalangan masyarakat Bali yaitu kisah Jayaprana seorang pemuda yang meninggal justru karena memiliki seorang istri yang cantik nan menawan. Kisah ini diyakini memang benar-benar terjadi karena ada kuburannya yang berlokasi di daerah Pulaki. I Nyoman Jayaprana begitu nama lengkap sang pemuda yang berasal dari desa Kalianget. Seorang pemuda ganteng nan menawan selalu menjadi idaman setiap gadis yang menjumpainya. Gadis yang beruntung akhirnya dipersunting oleh sang Arjuna Nyoman Jayaprana bernama Ni Nyoman Layonsari.
 
Dikisahkan bahwa Nyoman Layonsari juga adalah gadis idaman setiap pemuda yang menjumpainya. Tidak kurang Sang ngawa rat alias Sang Raja sangat menaruh hati kepada Ni Layonsari. Setiap pagi Sang Raja naik ke menara yang berada di bancingah. Dari situ Sang Raja memandang ke arah pasar di mana banyak lalulalang gadis-gadis yang berjualan maupun yang berbelanja di pasar. Dari sekian banyak yang lewat hanya satu yang berkenan di hati Sang Raja, dialah Ni Nyoman Layonsari. Namun Sang Raja kalah cepat dengan I Nyoman Jayaprana. Sang gadis jatuh kepelukan Jayaprana menjadi istri yang berjanji sehidup semati. Keinginan Sang Raja tidak dapat dibendung, sehingga membuat upaya untuk menyingkirkan Nyoman Jayaprana. Melalui utusan, Sang Raja meminta Jayaprana untuk melawan musuh yang konon sudah berada di hutan sebelah barat. Dengan ditemani oleh seorang Patih Sawunggaling, Nyoman Jayaprana akhirnya berangkat walaupun sudah mendapat peringatan dari istrinya yang mendapat firasat tidak bagus. Nyoman Jayaprana meyakinkan istrinya tidak akan terjadi apa-apa namun bila dia tidak kembali dan tercium bau yang sangat harum maka itu artinya jiwanya sudah menuju ke alam sana.
 
Begitulah kurang lebih kisah itu dan akhirnya Nyoman Jayaprana di kubur langsung di hutan yang tempat ia dibunuh. Kuburan Jayaprana juga tidak kalah terkenal sehingga sering mendapat kunjungan dari masyarakat Bali pada khususnya.
Tempat yang dulu bernama Kuburan Jayaprana sekarang di depan di tepi jalan terpancang nama "PURA PESIMPANGAN PADANDA SAKTI WAWU RAUH" dan selebihnya mohon maaf kami belum mengetahui asal usul nama ini. Namun di dalam Tirta Yatra yang hendak kami ceritakan tidak akan mengikutkan tempat itu.
 
Pulaki Pemuteran Kembali ke atas

Pura ini berlokasi di desa Pemuteran yaitu di sebelah timur Sumberkima Buleleng. Dari jalan raya masuk ke arah selatan kurang lebih 300 meter. Pura ini terletak di kaki perbukitan yang di kanan kirinya tumbuh tanaman jagung milik para petani setempat. Pada musim hujan bukit di belakang pura tampak menghijau. Di sebelah kanan tempat parkir kendaraan ada semacam tempat mandi atau mengambil air dan juga dilengkapi dengan WC umum.
Pura ini tidak begitu besar pun tidak terlalu kecil. Desain pura yang menawan oleh seorang arsitek terkenal yang juga mendesain Art Center di Denpasar adalah Ida Bagus Tugur. Warna batu pelinggih yang dominan putih seolaholah menyatu dengan bukit yang ada di belakangnya. Di sekitar pura agak ke belakang terdapat tempat latihan tempur TNI yang pada bulan-bulan latihan agak mengganggu suasana keheningan untuk bersembahyang.
Memasuki gerbang dari Pura Pemuteran pertama kita akan menjumpai pebejian di sebelah kanan kita, Pebejian ini berlokasi pada jaba tengah dari pada pura Pemuteran. Halaman ini penuh dengan bunga-bunga yang ditanam oleh prajuru di sana. Terdapat juga Bale Gong di halaman jaba tengah ini.
Untuk masuk ke jeroan kita lewat di depan Bale Gong ini, dan kita akan menjumpai para Jero Mangku yang selalu siap untuk menuntun umatnya untuk bersembahyang di sana. Ada Jero Mangku Surata sebagai Pemangku Gede di sana di samping ada dua Jero Mangku penyade untuk membantu umat menghaturkan bakti. Pura Pemuteran adalah Pura di mana kita akan melakukan PENGELUKATAN untuk menghilangkan kelethehan yang melekat pada diri kita sebelum melakukan serangkaian persembahyangan di wilayah Pulaki.
Untuk melakukan pengelukatan sebaiknya kita persiapkan Banten Pejati dan tegen-tegenan untuk pengelukatan. Untuk niat ini sebaiknya dikonfirmasikan terlebih dahulu dengan Jero Mangku di sana.
Sebelum pengelukatan dilakukan kita diwajibkan untuk melakukan Panca Sembah dan setelahnya dipersilahkan ke jaba sisi untuk melukat. Di pebejian telah siap air untuk melukat yang telah dicampur dengan tirta pengelukatan yang dibuat oleh Jero Mangku. Sekarang siap untuk melakukan pengelukatan, semua destar dan baju safari sebaiknya dibuka. Alangkah baiknya jika kita memakai baju kaos dalam sehingga tidak bertelanjang dada. Untuk para wanita disarankan untuk tidak memakai sanggul sehingga dengan mudah rambut diurai seperti layaknya keramas.
Melihat teman-teman yang mendapat pengelukatan paling dulu ingin rasanya segera dilukat. Bagaimana tidak, cuaca yang agak panas pada siang hari membuat kita sedikit kegerahan. Wah segar sekali rasanya melihat teman-teman yang disiram dari kepala hingga mengenai badan. Ya begitulah keinginan itu sampai pada gilirannya kita yang dilukat baru akan merasakan yang sebenarnya. Air di ember penuh dengan bunga warna-warna bersiaplah menundukkan kepala untuk disiram dari ubun-ubun hingga ke punggung. Wow..., rasanya ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Airnya sedikit suam-suam kuku. Menurut penuturan orang Jepang siraman air panas seketika bagus untuk menstimulir tekanan darah. Jadi di samping membersihkan leteh secara spiritual, secara jasmani juga dibersihkan.
Sebelum mepamit kita harus ngaturang sembah sekali lagi menghaturkan rasa terimakasih kita karena telah diberi kesempatan untuk melukat.

Pura Agung Pulaki Kembali ke atas

Pura Agung Pulaki berlokasi di pinggir jalan raya Gilimanuk Singaraja yang juga disebut sebagai Pura Petirtan. Jika kita mengadakan perjalanan dari arah barat atau dari Gilimanuk maka kita akan melewati Pura Pulaki untuk menuju Pura Pemuteran sehingga kita harus berbalik arah lagi untuk tujuan kedua.
Pura yang dominan dengan ornamen batu yang berwarna hitam juga memiliki jaba tengah. Pura yang menempel di kaki perbukitan ini membawa suasana lingkungan tersendiri ditambah dengan suara ombak laut sekalipun sekali-sekali kita dengar suara kendaraan lewat sehingga lengkaplah suasana yang mendukung keberadaan Pura Agung Pulaki.
Haturan berupa Banten Pejati sebaiknya sudah dipersiapkan, namun tutup keben-nya jangan dibuka agar tidak mengundang anak buah dari Sang Hanoman alias monyet yang banyak berkeliaran di sana. Semua haturan kecuali Canang dan Kewangen sebagai sarana sembahyang dimasukkan ke dalam tempat yang telah dikurung dengan kawat sehingga terhindar dari jamahan monyet-monyet di sana. Tidak perlu terganggu dengan kehadiran monyet-monyet itu karena memang rumahnya di sana. Selama ngaturang sembah para Pemangku Penyade akan menjaga kita dari gangguan monyet-monyet itu. Anak-anak jangan diijinkan untuk membawa makanan di tangan mereka karena akan menjadi jarahan dari sang monyet, bebaskanlah tangan mereka dari makanan-makanan kecil yang dibawa. Demikian juga setelah selesai melakukan persembahyangan jangan membagi-bagikan prasadam atau surudan dari Banten Pejati karena semua akan datang terkecuali kita ingin mengiklaskan semua prasadam itu untuk sang monyet.
Persembahyangan di sini sifatnya biasa tidak ada yang khusus terkecuali kita memang memiliki acara khusus seperti mendak tirta dan lain sebagainya yang lebih spesifik. Lebih di atas dari Pura Agung Pulaki ada pura yang diberi nama Pura Pegaluhan atau Pura Luhur. Kali ini kita tidak sampai ke sana untuk tirta yatra.

Pura Melanting Kembali ke atas

Berbeda dengan Pura Pulaki lokasi Pura Melanting agak ke dalam dan melintasi hutan-hutan kecil dan rumah-rumah penduduk di sepanjang perjalanan. Namun jalan cukup untuk dilintasi dengan Bus. Halaman Parkir yang cukup luas sehingga kita bebas memilih tempat parkir. Lampu-lampu mercury yang dipasang di tempat parkir sampai ke pintu gerbang pura membuat kita yakin untuk melangkah jika kita tangkil di malam hari. Jalan di sepanjang menuju pintu gerbang cukup bagus. Dari kejauhan tampak keagungan Pura Melanting yang berdiri di kaki bukit yang agak tinggi. Desain arsitektur dari seorang arsitek Ida Bagus Tugur memang luar biasa. Lilitan Naga menuju Pintu Gerbang Utama dihiasi dengan lampu-lampu pada setiap lekukan badan naga mampu menuntun langkah kita untuk menaiki tangga. Sebelum kita melangkah menaiki tangga, kita disarankan untuk ngaturang sembah di Pelinggih Pebejian yang ada sebelah kiri kita di ujung depan tangga naik. Silakan membersihkan pikiran di sana dengan melakukan sembahyang dan setelah itu siap untuk tangkil kehadapan Ida Betara Ratu Mas Melanting.
Pura Melanting di Pulaki ini adalah pusat dari seluruh Pura Melanting yang ada di seluruh pelosok Bali. Dari seluruh pasar-pasar dan penyawangan yang ada menyatu di sini di Pulaki.
Setelah melewati Candi Bentar pertama kita masuk ke jaba tengah. Di sini terdapat bangunan yang belum sepenuhnya selesai, namun di malam hari suasana cukup tenang, suasana ini tidak kurang kalau kita tangkil pada siang hari. Areal utama atau Jeroan Pura Melanting lumayan luas. Kalau kita memandang lurus ke depan maka kita melihat sebuah Pelinggih Gedong yang megah dan menawan. Benar-benar hasil karya seorang arsitek kawakan. Tidak perlu tergesagesa, jalankanlah semua prosesi persembahyangan dengan sewajarnya kita tidak akan diburu-buru oleh pemedek yang belum mendapat tempat. Haturkanlah Banten Pejati dengan dupa yang telah dinyalakan. Mungkin di antara kita yang tangkil ada yang biasa Mekidung silakan nembang dengan seksama.
Di sisi kanan dari halaman tengah pura ada tempat khusus untuk melakukan meditasi. Untuk menuju ke tempat ini perlu mendapat bimbingan dari orang yang tahu seluk-beluk Pura melanting. Malam hari adalah waktu yang bagus untuk melakukan acara khusus tersebut.

Pura Kertekawat Kembali ke atas

Kedengarannya seperti Kerteg Kawat, sehingga seolaholah kita dihadapkan pada sebuah keadaan di mana kita harus melintasi jembatan gantung seperti jembatan sisa jaman Belanda yang ada di Blahbatuh. Ternyata tidak demikian, sebenarnya adalah "Pura Kertekawat". Pura ini berlokasi paling timur dari lima pura yang kita akan tuju di daerah Pulaki . Berbeda dengan pura-pura yang berada di sebelah barat yang hampir sebagian besar didesain oleh Ida Bagus Tugur, maka pura ini bentuk pelinggihnya hampir sama dengan pura-pura yang ada di Bali selatan. Masih tergolong baru dan ditata dengan apik. Kalau kita duduk dan melepaskan pandangan kita maka di balik semua pelinggih adalah perbukitan yang indah dengan dataran di kaki bukit yang ditumbuhi pohon jagung. Lokasi pura ini juga agak jauh dari jalan raya sehingga tidak ada suara mobil yang mengusik keheningan kita untuk bersujud.
Seorang Pemangku akan selalu siap untuk menghantarkan bakti kita dan juga akan siap memaparkan nama-nama pelinggih serta siapa yang melinggih. Tidak ada jaba tengah sehingga begitu masuk kita sudah sampai di halaman paling tengah alias jeroan. Lokasi pura yang datar sehingga kesannya agak ke Bali selatan. Di sinipun kita tidak perlu tergesagesa karena memang lingkungan yang ada mendukung untuk tidak diburu oleh pemedek lain, terkecuali kalau kita tangkil pada hari piodalan.

Pura Pabean Kembali ke atas

Ini adalah pura terakhir dari rangkaian tirta yatra kita di daerah Pulaki. Pura ini berlokasi di seberang persis dari Pura Agung Pulaki dan di atas tepi laut. Benar-benar indah. Pada sore hari menjelang matahari tenggelam jika kita berada di atas sana maka kita akan menyaksikan betapa indahnya Pulau Menjangan yang tampak dengan jelas. Jalan menuju pura sedikit menanjak, dengan berjalan kaki kita dapat menikmati suara ombak dan suara kendaraan yang lewat. Desain arsitektur pura ini lebih mirip dengan ornamen Cina dan juga di desain oleh Ida Bagus Tugur. Benar-benar indah dan menyenangkan karena sedikit berada pada ketinggian. Duduklah dengan santai setelah semua Banten Pejati dihaturkan, maka pejamkanlah mata sedikit untuk bermeditasi sejenak sembari Jero Mangku menghaturkan persembahan kita. Sebelumnya nyalakan dupa dan asaplah tangan dengan mantram Karasedana. Dengarkanlah deburan ombak di pantai, lemaskanlah otot-otot kita yang sudah kita pacu keliling ke-empat pura lainnya. Rileks sejenak, rasakan vibrasi yang memasuki seluruh sel-sel tubuh kita. Setelah Jero Mangku selesai, kembalilah dari meditasi dan siap untuk menghaturkan Panca Sembah. Segar rasanya setelah keliling lima pura dalam rangkaian bertirta yatra di daerah Pulaki.
Demikianlah acara kita dan saat kembali menuju ke rumah cari tempat yang bagus sambil menikmati pemandangan, kiranya semua prasadam atau lungsuran dapat dinikmati dengan santai.
Catatan: Jika perjalanan dilakukan dari Denpasar melalui Gilimanuk, sebaiknya juga kalau dilakukan persembahyangan di Pura Rambut Siwi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar